“Darah Itu Warnanya Merah, Jenderal!”

Posted by on Apr 22, 2016 in News | 0 comments

Museum Pancasila Sakti

Sebuah catatan tentang kunjungan ke Monumen Pancasila Sakti dan Museum Satria Mandala

***

Anda yang lahir dan besar di zaman Orde Baru, pasti tahu dari mana kalimat judul di atas kami kutip. Betul, kalimat tersebut diambil dari cuplikan dialog film Pengkhianatan G-30-S/PKI yang disutradai Arifin C. Noer. Film yang dirilis pada 1984 itu merupakan salah satu film laris pada zamannya, kemudian menjadi tontonan wajib tiap tanggal 30 September tiba. Pasca runtuhnya Orde Baru, film ini pun turut dipaksa turun dari gelombang siaran televisi karena dianggap representasi Orde Baru di bidang sosial politik.

Terlepas dari adanya kontroversi tentang apa yang sebenarnya terjadi di malam 30 September 1965, penghentian pemutaran film tersebut menyebabkan adanya kekosongan / gap sejarah di benak generasi yang lahir pasca Reformasi 1998.

Karena itu, SDIT Al-Furqon pada 18 Februari 2015 mengajak siswa-siswanya untuk berkunjung ke Museum Pancasila Sakti, Lubang Buaya, Jakarta Timur.

Monumen ini dibangun di atas lahan seluas 9 Hektar, atas prakarsa Presiden ke-2 RI, Soeharto. Monumen ini terletak Kelurahan Lubang Buaya, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur. Di sebelah selatan terdapat markas besar Tentara Nasional Indonesia, Cilangkap, sebelah utara adalah Bandar Udara Halim Perdanakusuma, sedangkan sebelah timur adalah Pasar Pondok Gede, dan sebelah barat, Taman Mini Indonesia Indah.

photo817292514077812707

Asyik mendengarkan keterangan dari bapak pemandu

Sebelum menjadi sebuah museum sejarah, tempat ini merupakan tanah atau kebun kosong yang dijadikan sebagai pusat pelatihan milik Partai Komunis Indonesia. Kemudian, tempat itu dijadikan sebagai tempat penyiksaan dan pembuangan terakhir para korban Gerakan 30 September 1965 (G30S/PKI). Di kawasan kebun kosong itu terdapat sebuah lubang sumur tua sedalam 12 meter yang digunakan untuk membuang jenazah para korban G30S/PKI. Sumur tua itu berdiameter 75 Cm.

photo817292514077812780

Sumur maut Lubang Buaya, tempat pembuangan ketujuh jenazah pahlawan Revolusi

Setelah menyimak penjelasan dari pengelola museum, dan berkeliling di sekitar lokasi, rombongan SDIT Al-Furqon menyempatkan diri berfoto di depan patung ketujuh Pahlawan Revolusi.

photo702975177741412312

photo817292514077812739

Di hari yang sama, selain mengunjungi Monumen Pancasila Sakti, rombongan siswa-siswi SDIT Al-Furqon juga mengunjungi Museum Satria Mandala. Museum Satria Mandala adalah museum sejarah perjuangan Tentara Nasional Indonesia yang terletak di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Museum yang diresmikan pada tahun 1972 oleh mantan Presiden Indonesia, Soeharto ini awalnya adalah rumah dari salah satu istri mantan Presiden Indonesia, Soekarno, yaitu istrinya yang bernama Ratna Sari Dewi Soekarno. Dalam museum ini dapat ditemui berbagai koleksi peralatan perang di Indonesia, dari masa lampau sampai modern seperti koleksi ranjau, rudal, torpedo, tank, meriam bahkan helikopter dan pesawat terbang (satu di antaranya adalah pesawat Cureng yang pernah diterbangkan oleh Marsekal Udara Agustinus Adisucipto).

photo817292514077812781

photo817292514077812776

Selain itu museum ini juga menyimpan berbagai berbagai benda bersejarah yang berkaitan dengan TNI seperti aneka senjata berat maupun ringan, atribut ketentaraan, panji-panji dan lambang-lambang di lingkungan TNI. Selain itu di museum ini dipamerkan juga tandu yang dipergunakan untuk mengusung Panglima Besar Jenderal Soedirman saat dia bergerilya dalam keadaan sakit melawan pendudukan kembali Belanda pada era 1940-an.

photo702975177741412314

photo817292514077812787

photo817292514077812709

Masih dalam kompleks Museum TNI Satriamandala ini terdapat juga Museum Waspada Purbawisesa yang menampilkan diorama ketika TNI bersama-sama dengan rakyat menumpas gerombolan separatis DI/TII di Jawa Barat, Jawa Tengah, Aceh, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan pada ear tahun 1960-an. Fasilitas lainnya yang ada di Museum TNI Satriamandala ini antara lain adalah Taman Bacaan Anak, Kios Cinderamata, Kantin serta Gedung Serbaguna yang berkapasitas 600 kursi.

Maka, seperti yang disampaikan Ir. Soekarno, presiden pertama RI, JASMERAH: “Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah!” Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari apa yang telah terjadi dan mencegah keburukan-keburukan di masa itu terulang kembali. [AlFurqon/AP]

 

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *